TPP LOMBOK TENGAH

Portal Informasi dan Pemberdayan Masyarakat Desa Kabupaten Lombok Tengah

Menjemput Hari Desa dari Angka-Angka yang Bicara

Ukuran Teks:
OPINI, P3MD Lombok Tengah. Hari Desa Nasional selalu datang dengan semangat perayaan, tetapi juga membawa cermin yang jujur. Angka-angka SDGs Desa Kabupaten Lombok Tengah memantulkan wajah pembangunan desa apa adanya, tanpa riasan, tanpa dramatisasi, sekaligus membuka ruang harapan yang rasional dan terukur.

Desa dan Cermin Angka

Capaian keseluruhan SDGs Desa Lombok Tengah berada di angka 36,91. Ia bukan sekadar statistik administratif, melainkan ringkasan perjalanan ribuan desa, jutaan warga, dan beragam kebijakan yang bertemu di ruang paling nyata bernama desa.

Angka itu tidak rendah karena kegagalan semata, juga tidak tinggi karena keberhasilan penuh. Ia berada di wilayah antara, sebuah fase transisi, ketika desa telah melangkah jauh dari keterisolasian, tetapi belum sepenuhnya tiba pada kemandirian berkelanjutan.

Dalam konteks Hari Desa Nasional, membaca angka justru menjadi cara paling jujur untuk mencintai desa. Dari sanalah optimisme memperoleh pijakan, bukan dari slogan, melainkan dari kesadaran akan posisi dan arah yang hendak dituju.

Fondasi yang Sudah Terbangun

Beberapa tujuan SDGs Desa menunjukkan fondasi yang kokoh. Desa Berenergi Bersih dan Terbarukan mencatat capaian 98,79, hampir sempurna. Listrik bukan lagi kemewahan, melainkan prasyarat dasar kehidupan desa hari ini.

Desa Sehat dan Sejahtera dengan capaian 68,46 serta Desa Damai Berkeadilan pada angka 65,6 menandakan layanan kesehatan dasar dan kohesi sosial relatif terjaga. Ini bukan capaian kecil, melainkan hasil konsistensi panjang kebijakan publik.

Air minum dan sanitasi aman yang mencapai 52,36 memperlihatkan bahwa kebutuhan dasar semakin dipahami sebagai hak, bukan bantuan. Desa-desa Lombok Tengah telah melewati fase bertahan hidup menuju fase meningkatkan kualitas hidup.

Fondasi-fondasi ini penting dicatat karena pembangunan berkelanjutan tidak tumbuh dari kekosongan. Ia memerlukan dasar sosial, infrastruktur, dan rasa aman yang cukup sebelum melompat pada inovasi dan keberlanjutan jangka panjang.

Capaian keseluruhan SDGs Desa Kabupaten Lombok Tengah (Sumber: Dashboard SDGs Desa 2026)

Tantangan yang Masih Menganga

Namun cermin itu juga memantulkan sisi lain yang menuntut kejujuran kolektif. Pendidikan Desa Berkualitas masih berada pada angka 28,27. Infrastruktur dan inovasi desa bahkan lebih rendah, hanya 20,2, menandakan persoalan mendasar kapasitas dan kreativitas desa.

Permukiman desa aman dan nyaman mencatat 27,36. Angka ini berbicara tentang rumah, ruang hidup, dan ketahanan wilayah yang belum sepenuhnya siap menghadapi tekanan sosial maupun bencana alam yang kian sering terjadi.

Lebih mengkhawatirkan lagi, tujuan-tujuan lingkungan berada pada zona kritis. Desa Tanggap Perubahan Iklim hanya 3,84. Desa Peduli Lingkungan Laut dan Darat masing-masing 7,88 dan 8,75, nyaris tak terdengar dalam kebijakan harian desa.

Konsumsi dan produksi sadar lingkungan pada angka 11,31 menunjukkan bahwa pembangunan desa masih dominan berorientasi hasil jangka pendek. Padahal, keberlanjutan justru ditentukan oleh keputusan-keputusan kecil yang diulang setiap hari.

Membaca Pola, Bukan Menyalahkan

Membaca capaian ini tidak untuk mencari kambing hitam. Angka-angka tersebut membentuk pola yang jelas: desa relatif berhasil pada aspek fisik dan layanan dasar, namun tertinggal pada dimensi ekologi, inovasi, dan ketahanan jangka panjang.

Pola ini bukan khas Lombok Tengah semata. Ia mencerminkan wajah pembangunan desa nasional yang lama berfokus pada pemenuhan kebutuhan mendesak, sebelum beralih pada kualitas dan keberlanjutan.

Optimisme justru lahir dari kesadaran ini. Desa tidak gagal, melainkan sedang berada di persimpangan penting. Fondasi telah terbangun, tinggal menentukan apakah langkah berikutnya akan lebih berani dan terintegrasi.

Hari Desa Nasional menjadi momentum untuk menggeser cara pandang. Dari pembangunan sektoral menuju pembangunan desa sebagai satu ekosistem sosial, ekonomi, dan lingkungan yang saling terkait.

Menguatkan Arah, Menyulam Harapan

Pengentasan kemiskinan dan kelaparan yang masing-masing berada di angka 43,38 menunjukkan pekerjaan rumah yang belum selesai, tetapi juga peluang besar untuk integrasi program ekonomi, pendidikan, dan kesehatan secara lebih cerdas.

Pertumbuhan ekonomi desa yang merata pada angka 34,94 menandakan potensi yang belum sepenuhnya dilepaskan. Desa memiliki sumber daya, tetapi membutuhkan inovasi, akses pasar, dan penguatan kapasitas manusia.

Keterlibatan perempuan desa yang mencapai 45,35 adalah sinyal positif. Ia membuka ruang bahwa pembangunan desa tidak lagi maskulin dan teknokratis semata, melainkan mulai mengakui peran sosial yang lebih inklusif.

Kemitraan pembangunan desa pada angka 31,2 memperlihatkan bahwa kolaborasi masih dapat diperluas. Desa tidak bisa berjalan sendiri, tetapi juga tidak boleh sekadar menjadi objek program pihak luar.

Hari Desa sebagai Titik Balik

Hari Desa Nasional bukan sekadar seremoni tahunan. Ia seharusnya menjadi titik balik reflektif, ketika desa dilihat bukan sebagai beban pembangunan, melainkan pusat transformasi sosial Indonesia.

Optimisme lahir ketika angka-angka dibaca sebagai peta jalan, bukan vonis. Lombok Tengah memiliki modal kuat untuk melompat lebih jauh, asalkan keberanian kebijakan menyusul kejelasan data.

Integrasi isu perubahan iklim, lingkungan, pendidikan, dan inovasi ke dalam perencanaan desa bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Desa yang tangguh hari ini adalah desa yang berpikir jauh ke depan.

Di situlah makna Hari Desa menemukan substansinya. Bukan pada baliho dan slogan, melainkan pada keberanian membaca kenyataan, merawat harapan, dan melangkah bersama menuju desa yang benar-benar berkelanjutan.