Refleksi Hari Bakti Pendamping Desa: Mengabdi dari Pinggiran untuk Indonesia
-----
Pendamping desa mengikuti upacara peringatan Hari Bakti Pendamping Desa 2025 yang dipusatkan di Provinsi Bengkulu, Selasa (21/10/2025).
-----
Lombok Tengah, P3MD— Setiap tanggal 7 Oktober, ribuan pendamping desa di seluruh Indonesia memperingati Hari Bakti Pendamping Desa. Tahun ini, peringatan nasional dipusatkan di Provinsi Bengkulu, Selasa (21/10/2025).
Peringatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan bentuk apresiasi terhadap profesi pendamping desa yang telah berjasa dalam memperkuat pembangunan dari akar rumput. Mereka adalah wajah nyata pengabdian di garis depan.
Penetapan Hari Bakti Pendamping Desa diatur melalui Keputusan Menteri Nomor 110 Tahun 2022 tentang Hari Desa. Momentum ini menjadi pengingat penting atas dedikasi dan perjuangan para pendamping selama hampir satu dekade.
Sejarahnya bermula pada 7 Oktober 2016, ketika para pendamping desa pertama kali diterjunkan ke berbagai pelosok negeri. Saat itu, mereka membawa semangat besar: membangun Indonesia dari pinggiran sebagaimana amanat Nawacita.
Sejak hari itu, pendamping desa menjadi mitra strategis pemerintah dalam memperkuat kapasitas pemerintahan desa dan mendorong perencanaan partisipatif yang berpihak pada warga. Mereka hadir bukan sekadar sebagai fasilitator, tetapi penggerak perubahan sosial.
Di tangan para pendamping desa, Dana Desa tidak hanya menjadi anggaran pembangunan, tetapi juga alat pemberdayaan yang menumbuhkan partisipasi masyarakat dan memantik inovasi ekonomi lokal.
Tak jarang, mereka harus menempuh jalan terjal, menyeberangi sungai, dan bermalam di dusun terpencil demi memastikan setiap rupiah Dana Desa memberi manfaat nyata bagi warga.
Dalam perjalanannya, pendamping desa menghadapi tantangan kompleks. Mulai dari keterbatasan data, perubahan kebijakan, hingga rendahnya kapasitas aparatur desa. Namun di balik semua itu, mereka terus belajar dan beradaptasi.
Hari Bakti Pendamping Desa menjadi momentum untuk refleksi dan pembaruan semangat. Momen ini mengingatkan bahwa keberhasilan pembangunan desa tidak lahir dari angka-angka laporan, melainkan dari hubungan manusia yang tulus dan kerja bersama.
Peringatan tahun ini juga mengajak semua pihak untuk memperkuat kolaborasi. Pembangunan desa tidak bisa berjalan sendiri, ia membutuhkan sinergi antara pendamping, pemerintah, dan masyarakat desa itu sendiri.
Pendamping desa kini bukan sekadar penyuluh atau fasilitator. Mereka adalah jembatan antara kebijakan dan kenyataan, antara rencana dan realita, antara pusat dan desa yang berdenyut dengan kehidupan.
-----
Kepala PPMDDT memberikan sambutan dalam peringatan Hari Bakti Pendamping Desa 2025 di Bengkulu, menekankan pentingnya kolaborasi dalam memperkuat pembangunan dari desa.
-----
Di tengah perubahan zaman, peran mereka menjadi semakin penting. Digitalisasi, penguatan data, hingga isu stunting dan ekonomi hijau kini menjadi bagian dari pekerjaan sehari-hari pendamping desa.
Namun, di balik tantangan baru itu, nilai dasarnya tetap sama: mengabdi dari pinggiran untuk Indonesia. Nilai yang sederhana, tetapi menjadi fondasi kuat bagi pembangunan yang berkeadilan.
Hari Bakti Pendamping Desa bukan sekadar peringatan, melainkan cermin dari sebuah perjalanan panjang — perjalanan orang-orang yang percaya bahwa kemajuan bangsa bermula dari desa.
------
Kepala PPMDDT berdialog dengan para pendamping desa seusai acara refleksi nasional, membahas inovasi pemberdayaan dan penguatan kapasitas aparatur desa.
------
Hari Bakti Pendamping Desa menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi dan menumbuhkan inovasi dalam pembangunan desa. Peringatan ini juga menjadi ajang refleksi atas dedikasi para pendamping desa yang telah bekerja keras dalam membangun desa-desa di seluruh Indonesia.



