TAPM dan Dinas PMD Lombok Tengah Kolaborasi Susun Proyeksi Desa Mandiri 2030
------
Peserta diskusi TAPM dan Dinas PMD Lombok Tengah menatap layar proyektor yang menampilkan data Indeks Desa 2025. Hujan deras di luar tak mengurangi semangat kolaborasi menyusun proyeksi desa mandiri menuju RPJMD 2025–2030.
------
Lombok Tengah, P3MD – Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) Kabupaten Lombok Tengah bersama Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinas PMD) menggelar diskusi lanjutan mengenai analisis data Indeks Desa untuk mendukung penyusunan RPJMD 2025–2030.
Diskusi dilaksanakan di sekretariat
TAPM pada Jumat, 24 Oktober 2025, melanjutkan pertemuan sebelumnya sehari
sebelumnya. Suasana ruang sederhana tanpa pendingin udara tak mengurangi
semangat peserta dalam membahas capaian dan proyeksi kemandirian desa.
Kabid Administrasi Desa dan
Sekretaris Dinas PMD hadir langsung, bersama TAPM yang menyiapkan hasil
analisis enam dimensi Indeks Desa versi Bappenas. Semua peserta fokus membaca
data dan tren peningkatan status desa.
Hujan deras mengguyur atap
sekretariat saat diskusi berlangsung. Bunyi hujan menenggelamkan suara
kendaraan di luar ruangan, namun suasana tetap khidmat. Di tengah udara lembap,
peserta menatap layar proyektor yang menampilkan angka dan grafik berwarna.
Data Indeks Desa 2025 menunjukkan
capaian menggembirakan. Dari 132 desa di Lombok Tengah, sebanyak 88 desa
berstatus mandiri atau 66,67 persen, 42 desa berstatus maju, dan hanya 12 desa
masih tergolong berkembang.
Analisis dilakukan terhadap enam
dimensi utama: layanan dasar, sosial, ekonomi, lingkungan, aksesibilitas, dan
tata kelola pemerintahan. Setiap dimensi memiliki karakter dan tantangan
berbeda yang menjadi dasar penyusunan kebijakan RPJMD mendatang.
Pada dimensi layanan dasar,
mayoritas desa mencatat skor tinggi untuk pendidikan, air bersih, dan sanitasi.
Namun partisipasi PAUD dan ketersediaan tenaga kesehatan menetap masih perlu
diperkuat agar pelayanan benar-benar merata.
Dimensi sosial memperlihatkan
kekuatan gotong royong dan keamanan masyarakat yang tinggi. Sebanyak 112 desa
mencatat skor maksimal untuk resolusi konflik, sementara 105 desa kuat dalam
kegiatan satkamling berbasis komunitas.
Meski demikian, aktivitas olahraga
dan ruang publik masyarakat menurun. Beberapa desa masih kekurangan fasilitas
olahraga, taman baca, dan pusat kegiatan sosial yang mendukung interaksi
antarwarga di tingkat desa.
Sementara itu, dimensi ekonomi
menunjukkan struktur yang kuat. Sebanyak 125 desa memiliki BUMDes aktif dan 128
desa mengembangkan produk unggulan. Tantangan utama adalah mendorong inovasi
dan meningkatkan profesionalitas pengelolaan usaha desa.
Pada aspek lingkungan, hampir
seluruh desa memiliki regulasi pelestarian yang baik. Namun 129 desa masih
berada di skor satu dalam pemanfaatan energi terbarukan, menandakan minimnya
inisiatif energi hijau di tingkat desa.
Pengelolaan sampah sebagian besar
masih konvensional, tanpa fasilitas daur ulang terpadu. Meski sanitasi sudah
baik, kesadaran mitigasi bencana belum merata di semua wilayah, terutama di
desa dataran rendah yang rawan banjir.
Untuk aksesibilitas, Lombok Tengah
memiliki capaian positif. Jalan, listrik, dan internet sudah menjangkau hampir
seluruh desa. Sebanyak 119 desa mencatat skor lima dalam akses digital,
menandakan kemajuan signifikan dalam konektivitas informasi.
Transportasi publik masih menjadi pekerjaan rumah. Meskipun 110 desa memiliki angkutan desa, hanya dua desa yang mencatat skor lima untuk stabilitas dan frekuensi layanan transportasi.
Dimensi terakhir, tata kelola
pemerintahan desa, menunjukkan kemajuan dalam administrasi dan partisipasi
masyarakat. Namun transformasi digital masih rendah, dengan sebagian besar desa
mencatat skor satu dalam penggunaan sistem pemerintahan berbasis elektronik
(SPBE).
Kabid Administrasi Desa menekankan
pentingnya sinergi lintas sektor. Ia menyebut, “Kolaborasi data antara TAPM dan
Dinas PMD harus menjadi dasar dalam perencanaan. Data ini bukan sekadar angka,
tapi potret hidup pembangunan desa.”
Dari hasil analisis agregat, tim
menyusun tujuh rekomendasi strategis: memperkuat PAUD, menyediakan tenaga
kesehatan menetap, merevitalisasi ruang sosial, membangun inkubator BUMDes,
mengembangkan energi hijau, memperbaiki transportasi komunitas, dan memperluas
digitalisasi desa.
Sekretaris Dinas PMD menambahkan
bahwa hasil diskusi ini akan disampaikan ke BAPPERIDA sebagai bahan perumusan
RPJMD Lombok Tengah. “Kita ingin RPJMD berbasis data nyata, bukan asumsi,”
ujarnya menegaskan.
TAPM sendiri berperan menyiapkan
proyeksi jangka panjang status desa hingga tahun 2030. Proyeksi itu menargetkan
seluruh desa di Lombok Tengah berstatus Mandiri dalam lima tahun ke depan
melalui intervensi lintas program.
Hujan yang semula deras perlahan
reda. Para peserta menutup pertemuan dengan kesepakatan untuk memperkuat
integrasi data desa dan memperbarui analisis setiap tahun sebagai dasar
kebijakan daerah.
Dari ruang sederhana di sudut Praya itu, kolaborasi antara TAPM dan Dinas PMD melahirkan arah baru pembangunan Lombok Tengah. Sebuah tekad yang lahir bukan dari fasilitas mewah, melainkan dari kerja bersama dan data yang jujur. (Sb.Lomb)

